Halo Guys
Assalamualaikum wr.wb
Maaf teman2 udah lama tidak menulis, kali ini saya mengambil dari Zainuddin pemeran dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, sungguh mengherukan dan begitu menyentuh di hati.
"maaf ?? kau regas segenap pucuk harapanku kau patahkan, kau minta maaf ? ya. demikianlah perempuan, ia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya walaupun kecil dan dia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain padahal begitu besarnya. lupakah kau siapakah diantara kita yang kejam ? bukankah kau yang telah berjanji ketika saya disuir oleh didi mama'mu karena saya asalnya tidak tentu, orang hina-hina tidak tulen minangkabau.! ketika itu kau antarkan saya ke simpang jalan, kau berjanji akan menunggu kedatanganku berapapun lamanya. tapi kemudian kau berpaling ke yang lebih gagah, kaya raya berbangsa, beradat, berlembaga berketurunan kau kawin dengan dia. kau sendiri yang bilang padaku bahwa perkawinan itu bukan paksaan orang lain tetapi pilihan hati kau sendiri. hampir saya mati menanngung cinta hayati.! Dua bulan lamanya saya tergeletak di tempat tidur. kau jenguk saya dalam sakitku, menunjukkan bahwa tangan kau telah berinang, bahwa kau telah jadi kepunyaan orang lain. Siapakah diantara kita yang kejam Hayati. ?? saya kirimkan surat-surat, meratap, mengihanakan diri, memohon dikasihani. Tiba-tiba kau balas saja surat itu dengan suatu balasan yang tersudu di itik, tak termakan di ayam kau katakan bahwa kau miskin saya pun miskin. hidup tidak akan beruntung kalau tidak dengan uang. karena itu kau pilih kehidupan yang lebih senang, mentereng, cukup uang berenang di dalam emas bersayap uang kertas. siapakah diantara kita yang kejam, Hayati.?? siapakah yang telah menghalangi seorang anak muda yang bercita-cita tinggi menambah pengetahuan. tetapi akhirnya terbuang jauh ke Tanah Jawa ini. hilang kampung dan halamanku, sehingga dia menjadi seorang anak komedi yang tertawa di muka umum tetapi menangis di belakang layar. Tidak Hayati. saya tidak kejam. saya hanya menuruti katamu. bukankah kau yang meminta di dalam suratmu supaya cinta kita itu dihilangkan dan dilupakan saja ? Diganti dengan persahabatan yang kekal ?? permintaan itulah yang saya pegang teguh sekarang. kau bukan kecintaanku, bukan tunanganku, bukan istriku, tetapi janda dari orang lain. maka itu secara seorang sahabat, bahkan secara seorang saudara saya akan kembali teguh memegang janjiku dalam persahabatan itu. Sebagaimana teguhku dahulunya memegang cintaku. itulah sebabnya dengan segenap ridho hati ini, kau kubawa tinggal dirumahku untuk menunggu kedatangan suamimu. Tetapi kemudian, bukan dirinya yang kembali pulang tetapi surat cerai dan kabar yang mengerikan. Maka itu, sebagai seorang sahabat pula kau akan kulepas pulang ke kampung halamanmu, ke tanah asalmu tanah Minagkabau yang kaya raya yang beradat berlembaga yang tak lapuk di hujan tak lekang di panas."
Jumat, 27 Februari 2015
Kamis, 22 Januari 2015
#ithoughtloveisbullshit
Menunggu Berakhir Pilu
Pertama ku melihat
wajahnya hanya lewat sebuah foto, aku merasa kagum akan kecantikan dan
kesederhanaanya. Rendah hati, baik,cantik,sederhana, dan lembut, itulah yang
khayalan membekas dalam kepalaku tentang dirinya. Wajahku terus tersenyum dan
tak bisa mengungkapkan kata-kata lagi dan ku tak tahu apa namanya. Umur,
bukanlah sebuah halangan untuk mendapatkan sesuatu, ‘khususnya’ yang satu ini. Aku
tidak ingin menyebutkan namanya, karena menyebutkan namanya saja membuatku
malu.
Kuingin sekali
menelponnya, tapi tak tahu berapa nomor teleponnya. Lewat temannya lah aku
mencoba memintanya dan Alhamdulillah aku di berikan nomor teleponnya. Hatiku
girang tak menentu. Pertama kuingin sekali menelponnya, tapi aku malu untuk
menghubunginya karena tak ada cara lain berkomunikasi selain pesan singkat (SMS).
Seperti yang kupikirkan, itulah yang muncul ketika pertama kali ketika
berkomunikasi dengannya.
Hari demi hari seperti
serasa dekat dengannya walaupun umur, pendidikan, dan jarak yang memisahkan kita. Beberapa bulan lamanya
Alhamdulillah semakin dekat bagaikan ‘sahabat’. Suatu hari aku mencoba
menanyakan ‘dia’ dengan temannya mengenai bagaimana tanggapannya terhadapku,
temannya mengatakan hal-hal yang baik dan aku tidak girang gembira akan hal itu
dan saat itulah temannya memberikan saran untuk mecoba mengungkapkan perasaan aku
terhadapnya. Saat itu aku mencoba menungkapkan perasaanku, bukan bertemu
langsung melainkan lewat telepon. Kupikir itu satu tindakan yang tepat tetapi
itu tindakan yang bodoh, dan akhirnya ‘dia’ belum bisa menerimanya, bukan
karena dia punya pasangan melainkan dia belum siap menerima karena dia lebih
senang bersahabat denganku dan ingin focus belajar untuk menuju ke jenjang yang
lebih tinggi. Dengan berat hati ku merasa malu dan sakit hati akan
penolakannya, tapi itu bukanlah akhir dari sebuah kisah ceritaku.
Beberapa minggu
kemudian kembali berkomunikasi walau lewat SMS. Walaupun kami sering
berkomunikasi lewat SMS kadang pula lewat telepon, hal itulah yang membuatku
senang. Dia suka menceritakan tentang kejadian di sekolah, entah baik maupun
buruk, kadang pula dia menceritakan hal yang lucu dan memalukan tapi itu semua
untuk membuatnya senang begitu pula sebaliknya.
Komunikasi itu terus
berlanjut dalam waktu yang cukup lama, hingga suatu hari entah kebetulan atau
tidak, kami bertemu kembali. Ketika itu aku telah menyelesaikan kuliah
perdanaku, aku hendak ingin pulang kembali ke kampong halaman. Ketika hendak
ingin pulang hanya satu rencana ‘utama’ ku kembali, selain bertemu dengan teman
lama, tentu saja aku bertemu dengannya. Ketika kembali ke kampong halaman,
pertama rencana ku bertemu seluruh keluarga lalu keesokan harinya dilanjutkan
dengan pergi ke SMA bertemu dengan teman lama, guru dan tentunya ‘dia’. Tanpa sadar temannya memanggilku dan secara
tidak sengaja akhirnya aku bertemu dengannya secara langsung. Kata-kata yang
terlintas dipikiranku kemudian menghilang begitu saja, bertemu dengannya adalah
suatu anugerah terbesar. Ketika bertemu langsung, kami pun seperti orang bodoh
tidak tahu mau berbicara apa, tapi saling melemparkan senyum. Alhamdulillah,
Allah mempertemukan kita, walaupun kita bukanlah seorang pasangan, untuk waktu
yang tidak lama, karena ‘dia’ harus melanjutkan pelajaran kembali. Beberapa jam
saja aku bertemu dengannya adalah hal yang indah. Singkat tapi bermakna, adalah
hal bisa kukatakan sekarang ini.
Bulan Februari, adalah
bulan yang akan terus aku ingat sementara ini, singkat tapi penuh makna. Bulan
berikutnya, komunikasi kami berdua terus berjalan layaknya air yang mnengalir
di sungai dengan begitu tenangnya, itulah hal yang dapat kugambarkan bagaimana
‘persahabatan’ kami berdua. April, adalah bulan yang tak punya arti bagiku,
tapi bagi dia adalah bulan yang paling menegangkan dan mengerikan layaknya film
horror, bulan itu adalah bulan yang paling menyenangkan dan menyedihkan, karena
bulan April adalah bulan untuk menhadapi Ujian Nasional (UN). Momen itu adalah
kala kita harus berkumpul bersama dengan sahabat-sahabat terdekat untuk waktu
yang cukup singkat, momen kebersamaan dengan teman yang dijalin lamanya harus
berakhir, karena semua akan menjalani masa depan yang berbeda nantinya. Kembali
lagi kami tetap komunikasi, aku tidak ingin menganggu konsentrasinya yang
semakin hari semakin dekat menjelang UN. Hari itu aku tetap berkomunikasi tapi
cuma memberi pesan kepadanya bahwa UN itu harus dihadapi dengan sabar, ikhlas,
tawakkal dan ridho, aku cuma bisa mendoakan mudah-mudahan semuanya bisa
mengerjakan soal dengan lancar tanpa beban sedikit pun dan semua berakhir
dengan bahagia, yakni lulus 100%. Mungkin itu yang bisa aku ungkapkan kepadanya
untuk sementara, selama beberapa minggu aku tidak ingin menganggunya dulu dan
tetap focus di dalam perkuliahanku.
Entah kebetulan atau
tidak selama kuliah, niatku untuk kuliah semakin turun, entah mata kuliahnya
yang kurang mengenakkan atau aku yang terlalu malas, semuanya berubah. Setelah
melaksanakan UN, hatinya kembali senang dan ceria tanpa beban sedikit pun
layaknya orang yang baru jatuh cinta. Ketika kembali menelponnya, dia terasa
senang sekali, syukur Alhamdulillah, dia menceritakan semua kejadian selama UN
berlangsung selama 4 hari. Kembali lagi layaknya air yang mengalir tenang.
Selama komunikasi dia menceritakan keresahannya yang bingung untuk menlanjutkan
ke Perguruan Tinggi, ada beberapa pilihan yang diambil, yakni Pendididikan Guru
Sekolah Dasar (PGSD), Sosiologi dan Ilmu Komunikasi. Sebagai Mahasiswa, aku
Cuma memberikan nasihat dan mendukung apapun pilihan yang terbaik diambilnya.
Jika ingin jujur, aku senang sekali ‘berteman’ dan ‘bersahabat’ dengannya,
walaupun lewat komunikasi, dan jarak yang memisahkan kita berdua.
Dalam 3 minggu kedepan
menjelang hari ulang tahunnya bulan Mei nanti, aku berencana bersama temannya
untuk tidak ingin menghubunginya dalam bentuk apapun, walaupun berat bagi aku,
Insya Allah aku mencoba melakukannya, kenapa aku lakukan hal itu ?, aku ingin
hal ini untuk menguji seberapa apa dan bagaimana rasanya jika aku tidak
berkomunikasi dengannya, apakah dia punya rasa yang lebih atau rasa sebatas
sahabat saja dengan aku.
Aku menjalaninya 3
minggu dan balik ke dalam perkuliahan. Hingga harinya pun tiba, aku tidak bisa
meberikan sesuatu yang special tidak seperti teman-temannya yang memberikan
kartu ucapan yang dihiasi dengan indah, hanya sebuah harapan dan doa yang bisa
kuselipkan, mudah-mudahan bisa menjadi anak yang baik bagi kedua orang tuanya,
sahabat dan orang-orang yang sayang terhadapnya. Happy Birthday. Itulah yang
bisa kuucapkan dengan singkat dan sederhana terhadapnya, respon dengan senang
adalah hal cukup bagiku. Aku bukanlah yang pertama yang bisa memberikan kata
selamat ulang tahun baginya, tapi aku akan berusaha menjadi orang yang terakhir
baginya. Aku
bukanlah orang yang special dimatamu, dimataku kau tetap menjadi orang yang
special.
Hari
ulang tahun yang dinginkannya senang mungkin seolah rasanya menjadi rusak
karenaku. Malam itu aku mencoba untuk melakukan sekali lagi tapi aku melakukan
dengan cara yang sedikit berbeda. Malam itu aku mencoba mengungkapkannya
kembali bagaimana perasaanku selama ini, dia menanggapinya dengan baik, dan
hari itu pun aku mencoba menjalin hubungan jarak jauh dengannya, tapi apa??
Semua berakhir pilu bagiku lagi dan lagi. Hari itu aku tak paham, mengapa
skenario yang kubuat begitu lamanya tetap pula berakhir sama? Malam itu dia menceritakan sedikit rahasia kepadaku,
dia menceritakan bahwa selama kami berkomunikasi selama berbulan, dia sedang
berhubungan dengan laki-laki lain. Walaupun tak begitu lama, terlintas
dipikiranku untuk apa kau menceritakan kau semua ini kepadaku, membuat semuanya
semakin pilu. Dia meminta maaf kepadaku jika tak menceritakan sebelumnya,
seperti halnya film ada yang berakhir bahagia adapula yang berakhir sedih.
Akhirnya aku memaafkannya. Dan untuk saat ini aku mencoba untuk tidak
berkomunikasi dengannya. Allah mungkin
belum mentakdirkan kami berdua untuk menjadi pasangan. Ini hanyalah sebuah
awal. Memaafkan belum tentu melupakan, mungkin benar apa yang disampaikan oleh
seorang sastrawan bernama Khairil Anwar, ‘Jika cinta
tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini, pastilah cinta
akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang’.
Tahun pertama : Kehidupan Baru
Setahun, tinggal
meninggalkan banyak cerita, baik suka maupun duka. Awal ku tinggal di kos,
semua terasa damai, tentram dan bahagia. Pertama kali ku menginjakkan kaki di
kos ini dan membawa barang yang sangat banyak, rasanya agak canggung dan malu
untuk menyapa. ketika ku membersihkan kamar dan mengatur barang-barang, muncul
seorang pria yang berbadan besar, dengan rambut gondrong, tapi dengan wajah
yang sedikit cantik, dengan nada yang lembut namanya kak akbar datang
menyapaku, “dari mana asal ta’ ade??”, dia bertanya. Lalu jawabku “dari luwu
timur kak”. Kita ya kak,? Balasku. Sama ji ki dek, satu kampung ji ki.
Lama kelamaan
kami mulai akrab dan begitu pula dengan teman kamar yang lain termasuk dengan
penjaga kos. Berbulan bulan lamanya aku hidup di kos semua berjalan dengan
normal, tapi ada kalanya semua berubah jadi berbeda dari biasanya. Seperti
westafel yang jarang dicuci oleh penghuni kos, sampah yang menumpuk, membuat penjaga
kos menjadi kesal dan marah besar.
Tapi ada momen
terbesar ketika seniorku seorang cewek bertengkar bukan dalam artian berkelahi,
melainkan adu mulut dengan penjaga kos, yang selalu dituduh membuang –buang air
dan membuat seniorku merasa jengkel dan resah. “ kenapa ko selalu menyalakan
air kalau lagi pergi”, Tanya penjaga kos dengan nada yang keras, “ bukan saya
yang kasih jalan air” balasnya. Adu mulut terus terjadi hingga tak ada akhir. Lama
kelamaan semuanya berubah, sikap penjaga kos yang dulu baik dan ramah, kini
jadi pendiam dan pemarah.
Hal itu berlaku
beberapa bulan saja. Masuk bulan juni, momen bulan puasa dan bergulirnya piala
dunia, aku dan penghuni lainnya menyambutnya dengan antusias. Semua orang
memprediksi siapa yang akan jadi juara piala dunia tahun ini. “oi, siapa
menurutmu juara nanti ??” tanyaku ke kak akbar. “jerman pastinya juara nanti,”
jawabnya. Semua penghuni tidak mau kalah menebak nebak siapa yang bakalan nanti
juara.
Masuk
pertengahan bulan juni, pertandingan makin seru. Setiap malamnya penghuni hanya
bisa menyaksikan piala dunia dengan suara yang sedikit hening, kenapa ?? karena
penghuni yang lain tidak mau ada yang namanya keributan, suara yang menggema
layaknya stadion. Ketika pertandingan berjalan seru dan ada tim yang memasukan
bola, kami tidak bisa menahan rasa gembira, jadi kami teriak dengan keras
sambil buka baju, dan berlari “GOOOOOLLLLLLLL”. Hati gembira senang riang
menandakan bahagianya kami. Tiba- tiba penjaga kos memukul pintunya dengan
keras. “woiiii kau bisa diam kah” ?? kami pun diam kembali, dan kembali tenang
dan tetap menyaksikan hingga pertandingan berakhir.
Beberapa hari
kemudian, sesuatu yang tidak diinginkan harus terjadi. Karena setiap malam kami para lelaki menonton
pertandingan bola, televisi yang dahulunya berwarna, bersuara dan bergambar
kini berubah menjadi seperti radio. Penjaga kos pun marah mengeluarkan ribuan
kata dan menyalahkan kami karena setiap harinya televise menyala setiap tengah malam semua lelaki
dituduh dan kami pun tak mau berkomentar banyak. Suasana makin tidak akrab.
Makin lama ku
juga merasa risih dengan penjaga kos, bukannya benci, setiap melihat hal yang
kurang rapi, ia selalu marah tapi tak tahu mengarah ke siapa. Ku membuka mata
dipagi hari dan membuka pintu tiba –tiba ia datang dengan tampang kusut. Pagi
seakan berubah jadi gelap, entah ke mana ia bicara dan mengucapkan kata-kata
satir. Baru kali ini ku melihat seorang bapak yang mempunyai sifat cerewet
seperti ibu-ibu. Tapi ku memilih diam dan lenyap. Ku berharap bisa menghilang
dalam waktu yang entah berapa lama.
Selasa, 20 Januari 2015
The Interview with Korlap The Macz Man
Butuh waktu yang lama
untuk menemukan suatu tema yang pas, inginku menemukan sesuatu yang sedikit
unik dan menarik untuk dibahas, tapi inilah yang dapat kutemukan. Mencari
sebuah kumpulan atau komunitas untuk sebuah kota yang besar mungkin butuh yang
cukup lama, apalagi kan kota sebuah kota yang bernamakan ‘Makassar’ itu
sangatlah sulit dan Makassar kota yang luas.Mencari dan menentukan
sebuah komunitas itu ibarat kita mencari seorang wanita yang pas dan tepat di
hati kita itu butuh kerja keras bung, awalnya kubertanya kepada kawan-kawanku
yang kebetulan ada juga berdomisili di sini hingga ke senior-senior ku di
kampus mengenai komunitas apa saja yang sedang ngetrend di Makassar, mulai
dance, skateboard, standup comedy, macam-macam lah pokoknya, hingga ku putuskan
lah ku ambil sebuah komunitas sepakbola yakni ‘The Macz Man’ Persatuan
Sepakbola Makassar (PSM).Siapa yang tidak kenal
dengan PSM Makassar klub kebanggan dari Kota daeng ini ? Klub yang berdiri
sejak tahun 1915 ini punya prestasi yang baik di kancah sepakbola Nasional dan
pernah meraih juara pada tahun 2000. Di balik lelaki yang hebat terdapat wanita
yang hebat, begitupula dengan klub, sebuah prestasi tak mudah diraih tanpa
kerja keras, latihan, hingga dukungan para Supporter yang tak pernah habis. Menemukan
basis supporter pencinta PSM inilah tak semudah membalikkan telapak tangan,
membutuhkan isi informasi yang lebih mendalam mulai dari alamat hingga orang-orang
yang berada disana.Berminggu-minggu kucari
mulai dari akun facebook,twitter, dan lainnya, agak sulit rupanya kutemukan,
hingga ku liat di akun BBM (BlackBerry Messenger) teman sekolahku yang bernama
Irzal, yang saat ini kuliah di Surabaya di profil gambarnya menggunakan kaos
The Macz Man dengan penuh ceria dan bangga, “bro, kau anak the macz man kah,
??” tanyaku padanya via bbm, “tidak, bro”. balasnya. “kau punya contact/ no
hpnya anak the macz man kah, ??” tanyaku lagi. “Iya bro, tapi anak Surabaya,
mau tidak ?,balas si Irzal ,“sip boleh lah..!!” balasku dengan senang.Hasil kerja keras ku
akhirnya membuahkan hasil. Akhirnya kuhubungi kawan Irzal itu di Surabaya
beberapa menit hingga diberikan lagi contact anak The Macz Man ini namanya
Rezky, walaupun cuma diberikan pin BB tapi tidak apa-apalah. Wah, tambah senang
lagi aku, sudah dapat kontak dapat kontak lagi aku, senang dua kali lagi. ku
aktifkan BBMku dan mencoba bercakap akrab dengan dirinya, seorang lelaki dengan
wajah ceria yang punya kumis dan janggut di gambar profilnya dan tampak sedikit
kurus.Dengan mengucap
Bismillah mudah-mudahan bukanlah kata satir dan sarkas yang ia ucapkan, ku
mulai dengan kata “Asslamulaikum kanda”, entah ia Muslim atau bukan.
“walaikumsalam wr.wb kanda”, jawabnya. Tampak mulai akrab pula kata-katanya, ku
lanjutkan terus percakapanku hingga maksud dan tujuan ku cakap padanya hingga
kata Alhamdulillah, ia bersedia untuk sebuah interview, walau waktu dan tempat
belum kami atur.Terlintas dalam
pikiranku, kelak apa yang ingin ku bahas dengan orang ini, itupun akan terjawab
ketika kelak interview nanti. Dari hari ke hari hingga minggu ke minggu bingung
dan selalu terlintas setiap ku kembali ke kos. Hingga satu minggu sebelum
final, dosen pun mengatakan tugas ini hari rabu depan, 7 Januari 2015 harus di
kumpul, jika tidak dapat error.
Perasaan yang semakin
campur aduk,panik, histeris, teriak pun terjadi dan hanya memikirkan itu. Ku
hubungi lagi orang ini untuk ku bujuk interview, selalu bertanya orang ini “ wawancara untuk apa kanda ?” dan
bingung ku jawab apa, “ lalu ku mulai mengajukan pertanyaan yang masih
mengada-ada, “mengenai PSM kanda, bisa ji kah kanda, ? tolong kanda. Tanya ku
kembali dengan nada memohon.Berhari hari tak
kunjung balas buat semakin ribet dan menujukkan ketidakjelasan hampir membuatku
jadi tidak konsisten, apakah harus ku ambil tema lain apa tidak, sempat pula
dalam beberapa hari senior dari fakultas tetangga memberikan ide cari hal yang
lain saja untuk pertimbangan. Walau bagaiamana pun, “the show must go on”.Hingga hari itu pun
tiba, Sabtu 3 Januari 2015 kami pun mengatur waktu untuk bertemu di SMA 3
Makassar pukul 13.10. Angin berhembus sangat kencang dan turunnya hujan dan tak tahu kapan
berhenti membuat ku harus tetap pergi hanya modal jas hujan. Tibaku di sebuah
kawasan banjir di dekat kompleks rumah warga di Jl. Baji Areng dan
Alhamdulillah kami pun bertemu di sebuah warung kopi, sebuah tempat pas untuk
minum secangkir kopi hangat sambil wawancara, baju warna merah yang bertuliskan
Manchester United dengan jeans ¾ yang ia kenakan tampak sedikit kebasahan.Seorang mahasiswa
kelahiran Watampone 23 Tahun yang lalu, Andi Muh. Faizal namanya, ichal sapaan
akrabnya menjabat sebagai Koordinator Lapangan (Korlap) di SMA 3 Makassar dan The Macz Man, saat ini kuliah di salah
satu kampus swasta di Makassar. Kami pun bertemu untuk pertama kali, jabat
tangan melemparkan senyum sambil menanyakan kabar masing-masing sambil
mengeringkan tubuh walau hanya lembar demi lembar sebuah tisu tipis.
Kami memulai dengan
memesan kopi hitam sambil berbincang sekitar 1-2 jam, tapi belum masuk ke inti
tujuanku, suasana yang sedikit berisik seperti pasar, kami pun ke tempat sepi
yang agak tenang dan damai, ke SMA 3 Makassar tak terlalu jauh dari warkop tadi
dengan jalan kaki saja dengan kondisi air tergenang yang setinggi lutut orang dewasa.
Begitu tiba, ku mulai
dengan mengambil sebuah handphone sambil merekam percakapan. Telah kususun
draft pertanyaan yang kubuat semalaman dan kusampaikan semua. Agak takutnya di
awal, ichal mengira ini wawancara investigasi, ku jelaskan perlahan-lahan
hingga beliau mengerti. Selama percakapan berlangsung lama, kanda ichal
menjawab dengan santai dan tak tergesa-gesa sambil mengaruk garuk kepalanya.
“awalnya the macz man smaga (SMA 3) ini terbentuk pada tanggal 3 bulan 3 tahun
2006 yang di bentuk oleh alumni kemudian saya lanjutkan tahun 2007 hingga
sekarang yang di mana tujuannya, untuk memperkenal dan membentuk tali
silaturahmi antar sektor-sektor dan mempererat loyalitas dan solidaritas di
kalangan supporter bukan hanya di kenal anarkis ya, tapi dituntut untuk selalu
kreatif untuk mendukung tim kesayangan”, ujarnya.Mengenai masalah
loyalitas, sempat ku tanyakan bagaimana ketika tim kesayangan kota daeng ini
harus bermain di tanah jawa dan dengan nada sedikit sedih ia katakan “walaupun
PSM Home Basenya musim lalu di Surabaya, mau tidak mau kami harus ke sana untuk
mendukung, tapi kami selaku supporter berharap PSM bisa bermain di Makassar
lagi, dan Insya Allah PSM musim depan akan bermain di Stadion Andi Mattalata
lagi”. jawab penggemar dari Rasyid Bakrie ini.Tak punya tempat
tinggal di Surabaya, mereka pun tinggal di rumah kerabatnya, Rezky yang
kebetulan anak Makassar juga punya sebuah kontrakan kecil, hidup seperti anak
kosan selama beberapa bulan, makan seadanya dan hidup apa adanya, itulah hidup.Menjadi seorang
Kordinator Lapangan (Korlap) merupakan tanggung jawab dan kepercayaan yang
besar dari anggotanya. Pertama kali di percaya menjadi korlap merupakan hal
yang tak terduga, kebanggan, dan butuh keberanian yang besar mengiringi ribuan
supporter The Macz Man. Kagumku ketika kanda mengiringi berdiri di pagar tribun
sambil mengiringi ribuan supporter The Macz Man layaknya ombak laut yang selalu
mendukung selama 90 menit penuh. Gugup hingga tegang itulah yang ia rasakan
pertama kali mengiringi pasukan The Macz Man dan tak pernah lelah mendukung
setiap PSM Makassar bermain baik kandang maupun tandang.Dari sekian
pertandingan yang PSM jalani, aku sempat menanyakan pertandingan yang berkesan,
kesan yang tak pernah ia lupakan pada tahun 2005, PSM vs Persebaya Surabaya, di
Surabaya, Persebaya Surabaya terkenal dengan “Bonek Mania”nya. “Datang ke
Surabaya bak uji nyali, seperti sumbang nyawa ke Surabaya, kalau kau datang ke
Surabaya, berharap saja kau punya nyawa cadangan”, ungkapnya dengan nada keras
sambil tertawa.PSM datang bersama
supporter The Macz Man disambut dengan sambutan negatif dari pelabuhan.
Bukannya sebuah senyuman malah ribuan batu yang diberikan bis supporter dan
ofisial tim PSM Makassar, Tak tinggal diam, pasukan The Macz Man keluar dari
bis membalas mengejar Bonek Mania sampai terpecah belah. Sungguh sambutan yang
tak layak untuk tamu seperti PSM. Malam itu akhirnya tiba
dan bertemu kembali kedua supporter itu di Stadiun Gelora Bung Tomo,
atmosfernya begitu panas. Keduanya di kawal oleh seorang bidadari-bidadari yang
berwajah sangar dan bermodalkan senjata besar untuk menjaga pertandingan tetap
aman. Peluit di bunyikan oleh wasit, Bonek dan The Macz Man memberikan dukungan
dan mengiringi pasukan masing-masing dengan nyanyian yang khas, mereka begitu
kompak bagaikan orchestra. Sayang, kedua tim berakhir dengan skor imbang 2-2
dan rasa benci yang mendalam,tatapan dendam dan mata menyala masih membekas di
hati The Macz Man hingga 2008. “Mengiringi supporter
di Surabaya bagi saya adalah hal yang bisa dilupakan, apalagi pertandingan ini
layaknya Derby “El Clasico” antara Real Madrid dan Barcelona. Hingga tahun 2009
kami pun datang kembali ke Surabaya dengan nyali besar dengan maksud untuk
mengakhiri konflik yang sudah berlangsung lama dan Alhamdulillah kami berdamai
dengan Bonek Mania sampai sekarang”. Ujar kanda ichal.Di dalam lapangan kami
itu lawan, tapi di luar kita adalah kawan. Itu semua hanya sepenggal cerita
yang perlu di buang tempat sampah dan tak perlu di ambil lagi. Bagiku seorang
The Macz Man dan PSM Makassar seperti sepasang kekasih yang saling melengkapi,
mendukung sampai mati. Berharap penuh mudah-mudahan PSM Makassar mampu meraih
Juara musim depan dan terlebih lagi bisa bermain di Tanah sendiri. “Saya ada
karena PSM dan PSM ada karena saya. Walau bagaimana pun PSM jika nantinya turun
turun kasta, saya akan terus dan tetap dukung PSM.” tegasnya.Kalah dan menang itu
sudah biasa di pertandingan. Cinta dan Loyalitas sebuah hal yang terpenting
buat sebuah supporter. Tim tak berarti tanpa pendukung. Dibalik kesuksesan
sebuah tim terdapat sebuah cerita rahasia dari supporter. Di mana pun dan
kapanpun supporter akan selalu dan terus ada untuk tim, PSM untuk The Macz Man
dan The Macz Man untuk PSM. “PSM Until Die”.
Langganan:
Postingan (Atom)